Tags

Hari ini aku berjalan ke sebuah tempat yang aku tak ketahui sebelumnya. Ini tidak biasanya karena aku hanya melangkahkan kakiku dengan sendirinya. Tanpa rencana, tanpa berfikir, juga tanpa uang yang cukup aku tetap berjalan di sudut kota tua. Jauh dari rumahku. Entah apa yang aku pikirkan selama perjalanan ini, aku sendiri tidak mengerti karena aku sendiri tidak memikirkan apapun.

Teriakan kernet bis, tawaran ojek, ajakan sopir angkot, sampai suara klakson mobil taksi tak kuhiraukan, menengok pun tidak. Kakiku terus saja berjalan seakan mempunyai pikiran sendiri sedangkan otak dan pikiranku kosong, hilang, hampa, sesak, namun aku tidak merasakan apapun. Langkah kakiku konstan menyusuri trotoar pinggir jalan.

Begitu pula saat aku melangkah di jembatan penyeberangan. Diriku melangkah tanpa peduli sekitar. Diriku sendiri tidak tahu mau kemana, hatiku begitu kosong hingga merasuki otakku yang ikut-ikutan kosong. Para pedagang yang menjajakan jualannya hanya kulewati tanpa ekspresi.

Tiba saatnya aku menuruni jembatan penyeberangan itu, ada seseorang yang menawarkan jasa pembuatan SIM alias calo, ternyata aku sudah di daerah Daan Mogot. Namun tetap tak kuhiraukan meski dia tetap mengikutiku sejauh beberapa meter sampai ia menyerah karena aku tidak meresponnya atau mungkin ia menemukan orang lain yang bisa ia tawarkan jasa ilegal itu.

Sejenak dalam langkah kakiku yang seperti mati rasa ini aku terheran akan jauhnya aku berjalan dari rumahku yang di daerah Rawamangun menuju ke Kota Tua, lalu ke Daan Mogot. 

Aku lantas bertanya kepada kakiku, “Hey, kedua kakiku. Kalian ingin kemana?”. Mereka bungkam tidak menjawab dan terus melangkah. “Hey, lihatkah kalian berdua badanku penuh peluh karena kalian terus berjalan tanpa henti? Bisakah kita berhenti sejenak di sana?”. Kembali aku bertanya kepada kedua kakiku, tapi mereka tetap bungkam.

Lalu aku menuju suatu warung untuk membeli segelas air dan duduk sejenak karena seluruh badanku berkeringat, sudah siang hari ternyata. Belum kering keringat di bajuku, kedua kakiku kembali melangkah. Aku tidak berusaha menghentikannya dan membiarkan diriku dibawa entah kemana, aku sendiri tidak peduli sama sekali. Tak lama kemudian aku berada di jalan raya Kali Deres.

Disini panas sekali, meskipun aku tidak memikirkannya –pikiranku tetap kosong- tapi badanku merasakannya dengan mengucurnya keringat seakan membuat seluruh tubuhku seperti mandi keringat. Aku terus saja melangkah, kedua mataku mengarah ke depan tapi karena kosongnya hati dan pikiranku, aku tidak melihat apapun yang berada di depan kedua mataku, aku tidak peduli orang melakukan apa. Menunggu angkot, berjalan, ngobrol di warung kopi sampai menebar ranjau paku, semuanya tidak kulihat.

Aku melihat tapi tidak melihat. Tidak terasa sampailah aku di terminal Kali Deres, salah satu terminal strategis yang berada di ujung paling barat di Jakarta. Aku terus berjalan…




Berjalan…



Berjalan…



Terus saja berjalan tanpa tujuan…



Kemanapun tak mengapa…



Aku sendiri tidak peduli…







by: SauOni